Kamis, 21 November 2019

Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia


Peta Konsep Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia




KERAJAAN-KERAJAAN HINDU

1.      Kerajaan Kutai
Kutai adalah kerajaan tertua yang bercorak Hindu di Nusantara dan seluruh Asia Tenggara. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam, didirikan oleh Kudungga pada abad ke-4 M. 
Aswawarman adalah raja pertama Kerajaan Kutai yang bercorak Hindu, yang diberi gelar Wangsakerta (pendiri keluarga kerajaan), dan Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya bernama Mulawarman.
Mulawarman dikenal sebagai seorang raja yang bijaksana dan dermawan. Dibuktikan dengan salah satu Yupa dari Tujuh tertulis bahwa Mulawarman telah menyedekahkan sekitar 20.000 ekor lembu kepada Brahmana. Serta kehidupan rakyat menjadi makmur, atas pemerintahannya ini, kerajaan Kutai berkembang pesat menjadi sebuah kerajaan Besar.
Bukti berdirinya Kerajaan Kutai adalah dengan ditemukannya yupa. Yupa merupakan tiang batu untuk mengikat hewan korban yang akan dipersembahkan oleh para brahmana. Yupa ditulis dalam huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta.
Setelah masa kejayaan kerajaan Kutai pada masa raja Mulawarman, berbeda dengan masa runtuhnya kerajaan ini pada masa raja Maharaja Dharma Setia, yang merupakan anak dari raja Mulawarman, ada beberapa faktor penyebab runtuhnya kerajaan ini yaitu:
a.       terjadinya konflik antar dua kerajaan karena gagalnya proses asimilasi, yaitu kerajaan Kutai Martadiputra yang dipimpin oleh raja Maharaja Dharma setia, dimana ia dibunuh oleh raja Aji Pangeran Shinum Panji dari kerajaan Kutai Kartanegara.
b.      adanya perubahan pangkat yang bermula raja bergelar Pangeran diubah menjadi bergelar Sultan, semenjak kerajaan Kutai menjadi kerajaan Islam di Jawa dibawah kuasa Kartanegara.[1]

2.      Kerajaan Tarumanegara
Tarumanegara adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di daerah aliran Cisadane dan Ciliwung pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M.  Serta wilayah kekuasaannya meliputi Karawang, Jakarta, Banten dan Bogor. Raja yang terkenal adalah Raja Purnawarman yang beraliran Hindu Wisnu, ia dikenal sebagai sosok raja yang gagah berani, tegas menghadapi masalah dan musuh. Mata pencaharian utama masyarakat pada masa ini yaitu petani dan berdagang.
Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 11 km. Selesai penggalian, ia mengadakan selametan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana. Penggalian ini bertujuan untuk mengairi pesawahan dan mencegah terjadinya banjir, karena sebelumnya masyarakat tani selalu aggal panen akibat kebanjiran.
Kerajaan Tarumanegara dibangun oleh Raja Dirajaguru Jaya Singawarman tahun 358 M dan memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomatri (wilayah Bekasi).[2]
Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara terjadi pada raja ke-13 yaitu Raja Tarusbawa, diantara penyebabnya adalah:
a.       Raja Tarusbawa lebih menginginkan memimpin kerajaan kecil yang berada di hilir sungai Gomati.
b.      adanya gempuran dari beberapa kerajaan pada masa itu. Apalagi kerajaan Majapahit merupakan kerajaan yang memiliki peranan penting dalam keruntuhan Kerajaan Tarumanegara.
  Kepemimpinan dilanjutkan oleh Sudawarman, Dimana kondisi Tarumanegara sudah mengalami kemunduran yang drastic, ditambah Sudawarman tidak peduli terhadap masalah-masalah yang terjadi di kerajaan, Sudawarman tidak menguasai persoalan mengenai Tarumanegara dan Memberikan ekomoni pada raja-raja dibawahnya[3]

3.      Kerajaan Kediri 
Kerajaan Kediri adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha (Dahanapura/ Kota api), yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang.
Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan.
Raja yang pernah memerintah Kerajaan Kediri adalah Bameswara, Jayabaya, Sarweswara, Aryyeswara, Gandra, Kameswara, dan Kertajaya. Raja Bameswara dikenal sebagai Raden Panji Asmarabangun dan permaisurinya Sri Kiranavatu atau Dewi Candra Kirana, Ia menetapkan lambang kerajaan berupa Candrakapala (tengkorak bertaring). Kisah perjalanan hidup tersebut ditulis oleh Mpu Darmaja dalam kitab Smaradahana. Kediri mencapai puncak kejayaan pada masa Jayabaya yang terkenal dengan ramalannya. Karya sastra dan pujangga yang terkenal adalah Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dengan Kitab Bharatayuda, Kitab Hariwangsa, dan Kitab Gatutkacasraya.
Kerajaan Panjalu Kediri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya dimana pada tahun 1222 Kertajaya sedang berselisih melawan kaum Brahmana yang kemudian meminta perlindungan Ken Arok akuwu Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga  bercita cita memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kadiri, yang akhirnya Kertajaya berhasil dikalahkan oleh Ken Arok.

4.      Kerajaan Singosari
Kerajaan Singasari adalah sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang.
Menurut Pararaton, pada awalnya Tumapel hanya sebuah daerah, bawahan Kerajaan Kediri. Yang menjabat sebagai akuwu (setara camat) Tumapel saat itu adalah Tunggul Ametung, ia mati dibunuh secara licik oleh pengawalnya sendiri yang bernama Ken Arok, yang kemudian menjadi akuwu baru. Selain itu, Ken Arok berniat melepaskan Tumapel dari kekuasaan Kediri.
Pada tahun 1222 terjadi perselisihan antara Kertajaya raja Kediri melawan kaum brahmana. Yang kemudian kaum brahmana menggabungkan diri dengan Ken Arok.
Kemenangan Ken Arok atas Kertajaya membuat dirinya terkenal dan harum. Raja pertama Kerajaan Singasari adalah Ken Arok. Ia diberi gelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi. Ken Arok membuat sebuah dinasti baru bernama Girindrawangsa. Ken Arok menganggap bahwa dirinya adalah keturunan Dewa Syiwa.
Sebagai raja, masa lalu Ken Arok sangatlah buruk. Ia membunuh Mpu Gandring dan Tunggul Ametung. Bahkan, ia juga memperistri Ken Dedes (istri Tunggul Ametung). Pada masa itu, Ken Dedes sedang mengandung anak dari Tunggul Ametung. Janin tersebut setelah lahir bernama Anusapati. 
Perkawinan Ken Arok dengan Ken Dedes memiliki tiga anak. Ada Mahisa Wong Ateleng, Panji Saprang, Panji Agnibaya, dan Dewi Rimbu. Perkawinan Ken Arok dengan Ken Umang memiliki empat anak. Masing-masing bernama Panji Tohjaya, Panji Sudhatu, Panji Wrengola, dan Dewi Rambi.
Perlakuan Ken Arok terhadap Anusapati berbeda dengan anak yang lain. Anusapati menjadi curiga. Anusapati bertanya kepada orang di sekitarnya. Anusapati mengetahui bahwa Ken Arok yang membunuh ayah kandungnya. Lalu Anusapati membunuh Ken Arok dengan menggunakan keris Mpu Gandring. Dengan tewasnya Ken Arok, berakhirlah kekuasaannya di Singsari.

5.      Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri sekitar tahun 1293-1500M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk atau Rajasanagara, yang berkuasa dari tahun 1350-1389 M, Majapahit menguasai kerajaan-kerajaan lainnya di semenanjung Malaya, Borneo, Sumatra, Bali, dan Filipina. 
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu terakhir di Semenanjung Malaya dan di anggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Kekuasaannya terbentang di Sumatra, Semenanjung Malaya, Borneo dan Indonesia timur, meskipun wilayahnya masih diperdebatkan. Berikut penyebab runtuhnya kerajaan Majapahit, yaitu:
a.       Terjadinya perang saudara (Perang Paregreg) tahun 1405-406, yaitu perang antara Wirabhumidan dan wikramawardhana.
b.      Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, pengaruh Majapahit di seluruh nusantara mulai berkurang. Pada saat bersamaan, sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan agama Islam, yaitu Kesultanan Malaka, mulai muncul di bagian barat nusantara.
c.       Catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis, dan Italia mengindikasikan bahwa telah terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari tangan penguasa Hindu ke tangan Adipati Unus, penguasa dariKesultanan Demak, antara tahun 1518 dan 1521 M.[4]

KERAJAAN-KERAJAAN BUDDHA

1.      Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya adalah kerajaan Melayu kuno di pulau Sumatera yang banyak berpengaruh dikepulauan  Melayu, berdirinya kerajaan ini diperkirakan sekitar abad ke-7 M. Seorang pendeta Tiongkok, yang bernama I-Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 selama 6 bulan, dimana kerajaan ini mulai mengalami kemunduran pada tahun 1200 dan 1300 karena berbagai faktor, termasuk ekspansi kerajaan Majapahit. Dalam bahasa Sansekerta “Sri” berarti bercahaya dan “Wijaya” berarti kemenangan.
Sekitar tahun 1992-1993, Pierre Yves Manguin, membuktikan bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (Sumatera Selatan).
Sriwijaya merupakan negara maritim sekaligus menjadi pusat perdagangan, Kerajaan ini terdiri dari tiga zona utama yaitu:
a.       Daerah ibukota yang berpusat di Palembang, lembah Sungai Musi yang berfungsi sebagai daerah pendukung dan daerah-daerah muara saingan yang mampu menjadi pusat kekuasan saingan.
b.      Wilayah hulu sungai Musi kaya akan berbagai komoditas yang berharga untuk pedagang Tiongkok. Ibukota diperintah secara langsung oleh penguasa.
c.       Daerah pendukung tetap diperintah oleh masyarakat lokal.

Penyebab Runtuhnya kerajaan Sriwijaya:
a.       Adanya persaingan di bidang pelayaran dan perdagangan, dimana Raja Rajendra Chola melakukan dua kali penyerangan terhadap Sriwijaya. Bahkan penyerangan yang kedua, Kerajaan Chola berhasil menawan Raja Cri Sanggrama Wijayatunggawarman serta berhasil merebut kota dan bandar-bandar penting Kerajaan Sriwijaya.
b.      Perluasan yang dilakukan Kerajaan Siam berdampak pada kegiatan pelayaran perdagangan Sriwijaya semakin berkurang. Sriwijaya menjadi kerajaan kecil dan lemah yang wilayahnya terbatas di daerah Palembang, pada abad ke-13 Kerajaan Sriwijaya di hancurkan oleh Kerajaan Majapahit.

2.      KerajaanMataram Kuno
Kerajaan Mataram Kuno atau disebut dengan Bhumi Mataram. Awalnya terletak di Jawa Tengah. Daerah Mataram dikelilingi banyak pegunungan dan di tengahnya banyak mengalir sungai besar diantaranya: sungai Progo, Bogowonto, Elo, dan Bengawan Solo. Kerajaan Mataram diperintah oleh dua dinasti atau wangsa yaitu wangsa Sanjaya yang beragama Hindu Syiwa yang berkuasa di daerah Jawa Tengah bagian Utara dan wangsa Syaelendra yang beragama Budha yang berkuasa di daerah Jawa Tengah bagian Selatan.
Pada masa pemerintahan Wawa sekitar abad 10, Mataram di Jawa Tengah mengalami kemunduran dan pusat pemerintahan dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sendok . Dengan adanya perpindahan kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, maka Mpu Sendok mendirikan dinasti baru yaitu dinasti Isyana dengan kerajaannya adalah Medang Mataram.[5]

KERAJAAN HINDU-BUDDHA

Kerajaan Kalingga
Kerajaan Kalingga merupakan kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang pertama muncul di pantai utara Jawa Tengah pada abad ke-6 Masehi. Lokasi ibu kota kerajaan ini tidak diketahui. Namun, diperkirakan ada suatu tempat sekitar Pekalongan dan Jepara, sebuah tempat bernama Kecamatan Keling ditemukan di pantai utara Kabupaten Jepara. Beberapa temuan arkeologis di dekat Kabupaten Pekalongan dan Batang menunjukkan bahwa Kabupaten Pekalongan adalah pelabuhan kuno, menunjukkan bahwa Pekalongan mungkin merupakan nama yang diubah dari Pe-Kaling-an. Kalingga ada antara abad ke-6 dan ke-7, dan itu adalah salah satu kerajaan Hindu-Buddha paling awal yang didirikan di Jawa Tengah. Karena catatan sejarah kerajaan ini cukup sulit ditemukan maka sebagian besar berasal dari sumber-sumber Tiongkok dan tradisi lokal.
Setelah Ratu Shima mangkat, kemudian Kerajaan Kalingga dibagi menjadi dua: Kerajaan Keling (Bhumi Sambhara) diperkirakan di sekitar Magelang (Bharabudhur), dan Kerajaan Medang (Bhumi Mataram) diperkirakan di sekitar Yogyakarta (Prambanan). Bagian Utara dipimpin Dewi Parwati bersama suaminya Rahyang Mandiminyak, Raja ke-2 Kerajaan Galuh. Sedangkan bagian selatan dipimpin adiknya, yaitu Prabhu Iswarakesawalingga yang berkuasa dari 695-742 M. Dimana Ratu shima merupakan istri dari Prabhu Kartikeyasingha, yang merupakan raja ke enam, kerajaan Kalingga.[6]

Seni Ukir Peninggalan Hindu-Buddha di Indonesia

SENI UKIR PENINGGALAN HINDU

1. Patung Prajnaparamita


https://id.wikipedia.org/wiki/Prajnaparamita_dari_Jawa

    Arca Prajnaparamita ini adalah salah satu mahakarya terbaik seni klasik Hindu-Buddha Indonesia, khususnya seni patung Jawa kuno. Arca dewi kebijaksanaan transendental dengan raut wajah yang tenang memancarkan keteduhan, kedamaian, dan kebijaksanaan; dikontraskan dengan pakaiannya yang raya mengenakan Jatamakuta gelung rambut dan perhiasan ukiran yang luar biasa halus. Dewi ini tengah dalam posisi teratai sempurna duduk bersila di atas padmasana (tempat duduk teratai), dewi ini tengah bermeditasi dengan tangan melakukan dharmachakra-mudra (mudra pemutaran roda dharma). Lengan kirinya mengempit sebatang utpala (bunga teratai biru) yang diatasnya terdapat keropak naskah Prajnaparamita-sutra dari daun lontar. Arca ini bersandar pada stella (sandaran arca) berukir, dan di belakang kepalanya terdapat halo atau aura lingkar cahaya yang melambangkan dewa-dewi atau orang suci yang telah mencapai tingkat kebijaksanaan tertinggi.

2. Prasasti Hantang


https://ngalam.co/2017/04/16/prasasti-hantang-hadiah-raja-jayabhaya-warga-ngantang/
      
         Prasasti Hantang ditemukan di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang yang dulunya sebuah desa bernama Hantang yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Prasasti berangka tahun 1057 Saka (7 September 1135 M) ini merupakan hadiah dari Raja Jayabhaya untuk warga desa tersebut.
       Prasasti yang terbuat dari batu andesit ini berbentuk batu besar yang ujung atasnya agak bulat dan di bagian bawahnya agak rusak. Aksara yang terpahat di batu prasasti tersebut adalah aksara Jawa kuno dan berbahasa Jawa Kuno pula. Di bagian depan sampai sisi kanan terdiri dari 26 baris dan di bagian belakang sampai sisi kiri terdiri dari 29 baris. Sementara itu, di bagian alasnya terdapat lanjutan kalimat, namun kalimatnya sangat sulit terbaca.

3. Prasasti Batu Tulis


https://www.google.com/search?q=GAMBAR+PRASASTI+BATU+TULIS&safe=strict&client=firefox-b-d&sxsrf=ACYBGNR15h3yROi03MtPqKQIYWgv97lOpQ:1574867128620&tbm=isch&source=iu&ictx=1&fir=wQPAkCsoEyo4kM%253A%252CbVQLpIprR6GqOM%252C_&vet=1&usg=AI4_-kQ1UOybtkgkfY775vPCl86r4y41dA&sa=X&ved=2ahUKEwi-8JOe1YrmAhVGVH0KHQLyAicQ9QEwAHoECAkQBg#imgrc=wQPAkCsoEyo4kM:

       Prasasti Batu Tulis ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Galuh Pakuan atau sering disebut dengan Pakuan Pajajaran atau Pajajaran. Sebuh kerjaan Hindu sejak abad 11 -16. Peninggalan sejarah ini adalah berupa tulisan yang ditulis pada batu. Batu yang digunakan adalah batu Terasit, yaitu jenis batu yang berada di sepanjang aliran Sungai Cisadane, Bogor, Jawa Barat. Peninggalan sejarah ini ditulis dengan menggunakan huruf Sunda Kawi atau Pallawa serta memakai bahasa Sansekerta. Prasasti Batu Tulis ini dibangun oleh Prabu Surawisesa yang berkuasa pada kerajaan tersebut. Pada prasasti itu juga terdapat tulisan yang berangka tahun 1455 Saka atau dalam masehi tahun 1533.

4. Prasasti Yupa

https://www.google.com/search?q=prasasti+yupa&safe=active&client=firefox-b-d&sxsrf=ACYBGNQUB0LTSDEisTT194Gry_BUhG_udQ:1575094779448&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwjV1cOmpZHmAhUOfH0KHbucDYMQ_AUoAXoECBAQAw&biw=1366&bih=626#imgrc=bpIWGxoeFgN1lM:  
         Prasasti Yupa adalah salah satu peninggalan sejarah kerajaan kutai yang paling tua. benda bersejarah satu ini merupakan bukti terkuat adanya kerajaan hindu yang bercokol diatas tanah kalimantan.

5. Prasasti Kebon Kopi

https://www.google.com/search?q=prasasti+kebon+kopi&safe=strict&client=firefox-b-d&sxsrf=ACYBGNTQVTE_wwopsmB7akYqnv5H4EULuw:1575095456925&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwjc1cnpp5HmAhVFAXIKHSDgA6AQ_AUoAXoECBIQAw&biw=1366&bih=626#imgrc=g-N0ehPiqZZM7M:
         Prasasti ini ditemukan dikampung muara sejak awal abad XIX ketika diadakan penebangan hutan untuk pembukaan perkebunan kopi.

6. Prasasti Muara Cianten

https://www.google.com/search?q=prasasti+muara+cianten&safe=strict&client=firefox-b-d&sxsrf=ACYBGNQnckHYoA7Du-S8PbDSxJmZXXVJBA:1575096012196&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwij46zyqZHmAhWHf30KHRYbBpYQ_AUoAXoECBAQAw&biw=1366&bih=626#imgrc=O7T2upbQWNcCCM:
        Prasasti ini terletak ditepi sungai cisadane dekat muara cianten yang dahulu dikenal dengan sebutan prasasti pasir muara, karena memang masuk kewilayah kampung pasir muara.

SENI UKIR PENINGGALAN BUDDHA

1. Prasasti Tuk Mas



https://www.romadecade.org/kerajaan-kalingga/#!


       Sebuah prasasti yang dipahatkan pada batu alam besar yang berdiri didekat suatu mata air yang ditemukan dilereng barat gunung merapi tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang.

          

2. Prasasti Sojomerto


https://www.romadecade.org/kerajaan-kalingga/#!
       Merupakan salah satu prasasti yang termasuk peninggalan Kerajaan Mataram Kuno di wilayah Jawa Tengah. Prasasti ini ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Tulisan pada prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu andesit berukuran panjang 43 cm, tebal 7 cm dan tinggi 78 cm menggunakan aksara Jawa Kuno (KAWI) dan ditulis dalam dialek Bahasa Melayu Kuno. Berdasarkan penggunaan hurufnya, prasasti ini diperkirakan berasal dari abad VII  Masehi. Aksara Jawa Kuno (KAWI) yang digunakan pada prasasti ini merupakan salah satu pengembangan dari aksara Pallava Grantha yang merupakan aksara induk bagi sejumlah dialek bahasa di kawasan Asia Tenggara (Baybayin, Mon, Champa, Khmer, Thai, Java, Bali, Batak, Sunda dll).

3. Arca Batara Guru

https://www.suaramerdeka.com/news/baca/180191/arca-batara-guru-ditemukan-di-kawasan-situs-candisari

      Ditemukan utuh saat proses penggalian (ekskavasi) di kawasan Situs Candisari Kecamatan Bansari, Temanggung. Arca tersebut ditemukan saat Tim Ekskavasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Tengah melakukan proses ekskavasi di kawasan Situs Candisari dalam kondisi tertelungkup dengan bagian kepala di sisi utara.
     "Arca itu ditemukan dalam kondisi tengkurap dengan bagian kepala di sisi utara, kondisinya masih utuh tidak tergores alat penggalian pada Minggu (7/4) lalu," ungkap Pengkaji Cagar Budaya BPCB Provinsi Jawa Tengah Winarto saat di Temanggung.
      Arca batu itu tersebut memiliki tinggi 105 centimeter, panjang 44 centimeter, dan lebar 30 centimeter dan kini disimpan di rumah Kadus Candi, Desa Candisari, Parwadi.

4. Arca Wisnu


https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/arca-dewa-wisnu-2/

       Arca Dewa Wisnu ini terbuat dari batu andesit dan memiliki nomor inventaris BG. 780. Ukuran dari arca ini adalah lebar 33 cm, tebal 22 cm dan tinggi 56 cm. Arca ini berasal dari Groyokan, Sambirejo, Prambanan, Sleman.
       Deskripsi dari arca ini adalah arca dewa Wisnu digambarkan dalam posisi duduk vajrasana di atas padmasana, kaki kanan menumpang kaki kiri. Bertangan empat buah, tangan kanan depan sikap Dhyana mudra dan membawa gada, tangan kanan belakang memegang cakra, tangan kiri depan membawa Padma dan tangan kiri belakang membawa sangkha. Memakai mahkota kiritamakuta dan di belakang terdapat sirascakra. Stella sebelah kiri pecah. (Shinta Dwi Prasasti).

4. Prasasti Kota Kapur


https://situsbudaya.id/prasasti-kota-kapur/

        Prasasti Śrīwijaya yang pertama kali ditemukan, jauh sebelum Prasasti Kedukan Bukit yang baru ditemukan di Palembang pada tanggal 29 November 1920, dan Prasasti Talang Tuwo yang ditemukan beberapa hari sebelumnya yaitu pada tanggal 17 November 1920. Berdasarkan prasasti ini Sriwijaya diketahui telah menguasai bagian selatan Sumatera, Pulau Bangka dan Belitung hingga Lampung. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Sri Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum “Bhumi Jawa” yang tidak berbakti (tidak mau tunduk) kepada Sriwijaya. Peristiwa ini cukup bersamaan waktunya dengan perkiraan runtuhnya Taruma di Jawa bagian barat dan Holing (Kalingga) di Jawa bagian tengah. Ada kemungkinan hal tersebut akibat serangan Sriwijaya. Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di Selat Malaka, Selat Sunda, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata.
     Prasasti Kota Kapur ini, beserta penemuan-penemuan arkeologi lainnya di daerah tersebut, merupakan peninggalan masa Sriwijaya dan membuka wawasan baru tentang masa-masa Hindu-Budha pada masa itu. Prasasti ini juga membuka gambaran tentang corak masyarakat yang hidup pada abad ke-6 dan abad ke-7 dengan latar belakang agama Buddha.

5. Prasasti Telaga Batu


https://situsbudaya.id/prasasti-telaga-batu/

          Yang berisi tentang kutukan untuk mereka yang berbuat jahat di kedautan Sriwijaya dan kini disimpan pada Museum Nasional Jakarta. Di sekitar lokasi penemuan Prasasti Telaga Batu ini juga ditemukan Prasasti Telaga Batu 2 yang menceritakan tentang keberadaam sebuah vihara dan pada tahun sebelumnya juga ditemukan lebih dari 30 buah Prasasti Siddhayatra yang juga sudah disimpan di Museum Nasional Jakarta. Prasasti Telaga Batu dipahat di batu andesit dengan tinggi 118 cm serta lebar 148 cm.
          Pada bagian atas prasasti ada hiasan 7 buah kepala ular kobra serta di bagian tengah terdapat pancuran tempat mengalirnya air pembasuh. Tulisan pada prasasti ini memiliki 28 baris dengan huruf Pallawa dan memakai bahasa Melayu Kuno. Secara garis besar, isi dari tulisan ini adalah tentang kutukan untuk mereka yang berbuat kejahatan di kedatuan Sriwijaya dan tidak mematuhi perintah dari datu. Casparis lalu mengemukakan pendapat jika orang yang termasuk berbahaya dan juga bisa melawan kedatuan Sriwijaya perlu untuk disumpah yakni putra raja (rājaputra), menteri (kumārāmātya), bupati (bhūpati), panglima (senāpati), Pembesar/tokoh lokal terkemuka (nāyaka), bangsawan (pratyaya), raja bawahan (hāji pratyaya), hakim (dandanayaka), ketua pekerja/buruh (tuhā an vatak = vuruh), pengawas pekerja rendah (addhyāksi nījavarna), ahli senjata (vāsīkarana), tentara (cātabhata), pejabat pengelola (adhikarana), karyawan toko (kāyastha), pengrajin (sthāpaka), kapten kapal (puhāvam), peniaga (vaniyāga), pelayan raja (marsī hāji), dan budak raja (hulun hāji).

6. Prasasti Kalasan
https://www.sridianti.com/12-peninggalan-kerajaan-mataram-kuno-kerajaan-medang.html


       Prasasti Kalasan merupakan salah satu prasasti peninggalan Wangsa Sanjaya dari kerajaan Mataram Kuno pada tahun 778 masehi. Prasasti ini menggunakan tulisan dengan huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa Sansekerta. Prasasti ini ditemukan di Kecamata Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Saat ini, prasasti ini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.




       









          

















Profil Penulis dan Dosen Pengampu

Kelompok 4 Profil Penulis: Aeni Nurul Latifah Serang, 24 Desember 1998 11170321000037 Hobi: Baca Novel dan Memasak Siti Marya...